Impian Gue….

Posted: March 10, 2012 in Uncategorized

Perjalanan Impian Gue

Semua orang  di dunia ini pasti punya impian. Dan gue adalah salah satunya. Ada orang yang berani mewujudkan mimpi mereka, ada yang membatasi mimpi mereka dengan cara mengekang pikiran mereka sendiri, dan ada yang menjadikan ketidak mampuan sebagai alasan untuk tidak mewujudkan impian mereka. Ketidak mampuan bisa dijabarkan dalam beberapa hal, diantaranya ketidak mampuan dalam segi materi, fisik (karena cacat, dsb.), dan karena tidak adanya dukungan eksternal. Karena beberapa alasan itulah seseorang bisa kehilangan percaya diri dalam mengejar impian. Sangat diguengkan, tentunya.

Hidup adalah pilihan. Menurut gue, begitu pula dengan impian. Pasti ada banyak orang yang memiliki banyak impian, pun dengan gue. Impian gue sewaktu gue masih duduk di Sekolah Dasar adalah menjadi pemain sepak bola, dan bermain untuk Tim Nasional Indonesia kelak. Usaha dalam mewujudkan impian itu adalah dengan bermain bola tentunya, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sepak bola di SD, dan ikut berlatih bersama tim kecil yang ada di lingkungan tempat gue tinggal. Tim itu bernama SPY (Satria Putra Yunior), ketika itu, posisi gue adalah sebagai penjaga gawang. J beberapa pertandingan pun sempat gue ikuti, meskipun beberapa kali menderita kekalahan.

Beranjak menjadi murid SMP, atau di waktu itu lebih di kenal dengan sebutan SLTP (Sekolah Lanjut Tingkat Pertama), impian gue pun berganti dengan tidak menghilangkan impian sebelumnya. Menjadi Musisi. Ya, itulah impian gue, sewaktu gue duduk di SMP. Sewaktu gue duduk di SD, gue pernah belajar memainkan alat musik, yaitu suling. Gue rasa itu adalah alat musik yang anak SD pasti mainkan di beberapa Sekolah Dasar. Di SMP, gue belajar memainkan gitar. Gue minta diajari Om ketika itu, ya sekedar kunci dasar, dan setelah itu gue coba belajar otodidak, dengan membeli buku musik. Setelah hampir satu tahun belajar gitar, bisa dibilang gue tidak mengalami kemajuan yang berarti. Gue mulai mencoba alat musik lain, dan gue mencoba untuk bermain drum. Awal mula gue bermain drum adalah suatu hal yang tidak disengaja. Ketika gue SMP, gue dan teman-teman membentuk sebuah grup band, band asal-asalan tentunya, karena waktu itu hanya iseng, sekedar mengisi waktu luang. Ketika itu gue masih bermain gitar, sampai pada akhirnya, ketika kita latihan di suatu studio, tidak ada yang ingin bermain drum. Secara spontan, teman gue menunjuk gue untuk bermain drum. Gue tidak bisa mneolak, dan segera duduk di kursi drum. Jelas gue belum bisa apa-apa, dan bermain drum sebisanya. Tapi, dari situ ketertarikan gue akan drum bertambah. Setiap kali latihan di studio, gue terus mencoba bermain drum, sampai akhirnya bisa karena terbiasa, tidak jago tentunya, hanya dengan skill yang biasa saja. Dari situ, impian gue adalah menjadi seorang Drummer terkenal mulai terbentuk. J

Untuk mewujudkan impian sebagai Drummer, gue minta kepada Ibu untuk dibelikan drum. Gue senang, karena ketika itu, Ibu segera membelikan gue drum-set. Gue semakin semangat dalam bermain drum, tapi belum puas. Segera setelah itu, gue meminta kepada Orang Tua gue, agar gue bisa mengikuti drum-course, agar skill gue dalam bermain drum bertambah. Dan hal itu segera diwujudkan oleh  Orang Tua gue. Gue semakin semangat menjadi seorang Drummer. J

Sebagai seorang Drummer, tentu harus memiliki “jam terbang manggung”. Diwaktu itu, Om gue selalu mengajak gue untuk mengikuti beberapa festival band. Gue setuju, dan akhirnya kami berada dalam satu panggung, memainkan lagu yang sudah kami pilih, atau yang sudah ditentukan oleh panitia. Itu adalah pengalaman yang mengasyikan, dan masih terekam dalam ingatan. J

SMA, gue masih nge-band dengan teman-teman yang lain, sampai akhirnya, entah ini ide, wejangan, wangsit, atau apapun namanya, datang darimana, entah kenapa, gue bercita-cita ingin kuliah di jurusan Psikologi. Ya, kuliah di jurusan Psikologi. Waktu itu, gue sendiri masih duduk di kelas 1 SMA. Entah apa yang gue pikirkan ketika itu, karena gue sendiri belum tahu, apa saja yang di pelajari dalam Psikologi. Walaupun belum tahu apa saja yang dipelajari dalam Psikologi, tapi gue selalu bangga ketika siapapun yang bertanya, “nanti kuliah mau masuk jurusan apa?” dan dengan rasa percaya diri, dan senyum yang cukup lebar, gue menjawab, “Psikologi” J Karena ketika itu gue masih SMA, gue simpan impian untuk belajar Psikologi, sampai nanti waktunya tiba, ketika gue kuliah nanti. Lambat laun, karena jadwal sekolah yang semakin padat, gue semakin jarang nge-band dan bermain drum tentunya, kursus drum pun terhenti, setelah setahun lebih gue kursus. Impian gue sebagai Drummer, gue rasa tertunda, tapi gue belum mengubur impian itu.

Lulus SMA, gue pun bersiap memilih jurusan dalam perkuliahan yang sesuai dengan minat gue, dan minat gue adalah belajar Psikologi J sebelumnya, gue sudah mencoba ikut PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) di suatu Institut yang berada di Bogor. Ketika itu gue diterima, dan tidak bisa dipungkiri, gue merasa senang, orang tua gue pun ikut senang. Dari sini, permasalahan mulai nampak. Ayah gue sebenarnya bingung, mengapa gue memilih jurusan Psikologi, dan jelas tidak setuju jika gue memilih jurusan Psikologi. Mungkin pada waktu itu, adalah kali pertama gue dalam belajar “memilih dan menentukan masa depan”. Ketika gue diterima PMDK di suatu Institut di Bogor, dengan segera gue sms orang tua gue, Ibu membebaskan gue dalam memilih jurusan perkuliahan, tapi tidak dengan Ayah, karena beliau tetap menginginkan gue memilih Institut yang bertempat di Bogor. Gue memikirkan jurusan yang gue pilih dengan hati-hati, dan tidak “sembrono”. Akhirnya, gue memutuskan untuk memilih apa yang gue minati, apa yang gue impikan sedari 1 SMA, untuk belajar Psikologi. Menolak permintaan Ayah, untuk masa depan kita, tidak durhaka, kan? =p

Kini, gue sedang menjalani apa yang gue impikan, ya, belajar Psikologi, dengan teman-teman, dosen, dan lingkungan belajar yang cukup menyenangkan, di Universitas Gunadarma J perjalanan gue belum berakhir, karena gue ingin terus membuktikan kepada Ayah, yang gue pilih, bukanlah hal yang sia-sia, yang gue pilih, adalah hal yang gue yakini untuk masa depan gue, passion gue dalam bidang akademik, bukan berarti gue “mengecilkan” jurusan atau ilmu lain. Itu adalah beberapa alasan gue, mengapa gue memilih dan belajar Psikologi. Masih banyak yang belum gue tahu tentang Psikologi, karena itu, gue masih merasa, mempelajari Psikologi hingga saat ini adalah suatu impian, sekaligus usaha dalam mendapatkan impian gue. J

Ada impian baru, ketika gue belajar Psikologi Pendidikan di semester 2, yakni, member kontribusi di dunia pendidikan, terutama dalam hal pembelajaran dan gaya belajar murid. J gue ingin tiap sekolah memberi kebebasan kepada siswanya, untuk menentukan dan menjalani gaya belajar yang mereka suka, ya, gue rasa, selama ini sekolah seringkali memaksakan gaya belajar yang sama pada semua murid, padahal, kecerdasan dan minat setiap siswa kan berbeda, ditambah lagi, tidak ada siswa yang bodoh, karena gue yakin, setiap siswa memiliki kecerdasan di bidang masing-masing J mungkin di beberapa sekolah sudah diterapkan hal seperti itu, gue berharap tidak di “beberapa” saja, kalau bisa, menyeluruh. Gue tahu itu adalah hal yang cukup sulit, tapi gue yakin, pasti bisa J usaha yang gue lakukan saat ini adalah berharap, berdoa, dan berusaha tentunya, belajar, dan sedikit memperhatikan gaya belajar teman-teman gue di kelas. Gue tahu itu hanya usaha kecil, tapi gue tidak akan berhenti bermimpi, berharap, berdoa, dan berusaha untuk hasil yang tidak kecil. J

Ada banyak impian gue saat ini, seperti bergerak di bidang/kegiatan sosial, mendirikan panti asuhan/jompo, mendirikan rumah makan dengan teman (berbisnis), menjadi penulis, berguna untuk lingkungan sekitar. Itu yang ada dalam pikiran gue saat ini, selebihnya, belum terpikirkan, atau tidak gue cantumkan. =p

Di awal cerita, gue sempat berkata, “Hidup adalah pilihan. Menurut gue, begitu pula dengan impian”. Ya, itulah yang gue rasakan, dan gue jalani. Gue telah memilih impian gue, dengan tidak menghilangkan impian gue sebelumnya, dan dengan tidak mengabaikan impian gue di masa depan, impian yang mungkin belum terpikirkan. Gue telah menentukan impian gue. Bermain bola dan drum, saat ini menjadi hobi, dan menjadi aktivitas di waktu senggang gue, karena gue tidak ingin melupakan, juga menghilangkan impian gue di masa lalu, karena impian itulah yang membawa gue kepada impian dan hal baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s